Siapa yang gak tahu brand roti 'bun' atau roti model bantal seperti cup 'payudara' ini. Iya begitulah saya menyebutnya, soalnya bentuknya mirip ganjalan busa di bh agar nampak terlihat besar.
Saya pertama kali kenal roti ini sejak saya mengenal ibukota, dulu sekitar tahun 2013 ketika mantan pacar saya mengajak saya ke ibukota Jakarta, lalu pergi menggunakan comuter line, ketika lapar untuk ganjal perut dibelikan roti ini.
Roti ini wangi, apalagi disantap pas masih hangat, aroma butter atau mentega ya menggugah selera dan aroma ke hidung. Rasanya pun gurih ini yang bikin nagih, ada yang rasa original kalau gak salah pernah saya cicipi yang rasa ini dan ada yang rasa coffee.
Kala itu saya melihat ada dua gerai roti yang menjual konsep serupa, yaitu Roti'O dan juga Rotiboy. Keduanya serupa tapi tak sama, hmm mungkin mirip seperti Alfamart dan Indomart gitu.
Nah pertanyaan selanjutnya muncul dikepala saya, sebenarnya siapa dulu ada sih, Rotiboy atau Roti'O? Kenapa rasanya bisa sama, mirip² aromanya. Sebenarnya siapa yang meniru dan siapa yang paling original?
Mari kita bahas pada postingan kali ini _____
Jadi yang pertama kali ada, menjual roti dengan konsep demikian adalah Rotiboy. Didirikan di Malaysia pada tahun 1998. Didirikan di Bukit Mertajam, Penang, Malaysia, oleh seorang yang bernama Hiro Tan.
Hiro Tan berprofesi sebagai seorang dosen ekonomi awalnya, kemudian memutuskan membuka toko roti. Nama toko rotinya ini adalah Rotiboy katanya diambil dari panggilannya kepada keponakannya dengan sebutan anak nakal, yang terdengar seperti kata 'rotiboy', maka jadilah nama Rotiboy.
Rotiboy ini sukses di Malaysia hingga akhirnya menjadikan bisnis ini sebagai waralaba. Seiring waktu sejak kelahirannya, perusahaan berekspansi ke luar Malaysia. Seperti di Indonesia, Thailand, Arab Saudi, Korea Selatan dan Uni Emirat Arab,
Pada tahun 2000, Rotiboy ini berekspansi hingga ke wilayah Indonesia dan di Indonesia memiliki banyak gerai, seringnya kita menjumpai gerai Rotiboy di mall besar.
Masuk ke Indonesia dengan lisensi waralaba, melalui PT Bintang Indo Jaya. Selain oleh perusahaan ini, Rotiboy juga dibeli lisensinya oleh PT Sebastian Citra Indonesia.
Namun seiring waktu terjadi perbedaan visi misi antara perusahaan induknya di Malaysia dan pemegang lisensi waralaba Rotiboy ini. Pada tahun 2012, PT Sebastian Citra Indonesia memutuskan lepas dari perusahaan induknya dan membuat brand sendiri yang menjual produk yang serupa, di sinilah kita mengenal Roti'O.
Jadi Roti'O itu lahir dari perusahaan asli Indonesia, walaupun ide awalnya itu adalah dari Malaysia. Bisa dibilang Roti'O ini lahir dari perkawinan beda negara, dimana lahir dari ibu pertiwi dan lahirlah brand baru Roti'O ini. Ini menurut POV saya yang menilai hal ini. Karena ada yang menilai perpisahan perusahaan pembeli lisensi dari perusahaan induk sehingga menjadi perusahaan independen tapi menjual produk serupa ini bukan sekedar pecah kongsi biasa. Tapi bagi saya apa yang terjadi ini ya sama saja dengan pecah kongsi.
Produk yang dijual keduanya mirip, ya roti kopi yang beraroma butter atau mentega yang sangat kuat, aromanya benar² bisa menggugah selera kita untuk membeli, apalagi ketika masih hangat baru keluar dari oven.
Hal pembedanya adalah soal harga, Rotiboy dijual agak sedikit lebih mahal dibandingkan dengan Roti'O. Sudah gitu, Roti'O menyasar pasar para komuter yang berpergian, makanya kita lebih sering menjumpai Roti'O di jaringan stasiun kereta api, sedangkan Rotiboy menyasar kelas premium dengan membuka gerai di mal dan pusat perbelanjaan.
Sisanya keduanya serupa tapi tak sama, bahkan dari mekanisme jualannya, toh ya memang awalnya Roti'O lahir dari benih 'perpecahan', bagi saya sih bisa dianggap 'perselingkuhan'. Jika tidak, seharusnya yang membuka gerai² di jaringan stasiun itu mungkin ya Rotiboy. Tapi bisa saja, perbedaan strategi penjualan membuat Rotiboy sebagai perusahaan induk pemilik lisensi tidak setuju dengan ide strategi dari pembeli lisensi yaitu PT Sebastian Citra Indonesia yang lebih ingin memasarkan Rotiboy ke banyak titik, mungkin inilah yang membuat perpecahan keduanya. Ini menurut POV saya sih, saya tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Karena saya membaca tidak ada sengketa hukum diantara keduanya yang mencuat ke publik karena perpecahan ini. Padahal secara gak langsung Rotiboy dirugikan.
Berdasarkan informasi yang saya peroleh, sebenarnya selain perbedaan konsep strategi pemasaran antara induk bisnis dan pembeli lisensinya ini, perpisahan keduanya terjadi karena kontrak lisensi waralabanya usai. Oleh karena pun strategi marketingnya tidak bisa disatukan, pembeli lisensi akhirnya mengakhiri kerjasama dan melanjutkan gerai yang sudah eksis selama ini dengan brand Rotiboy, berubah nama dengan brand baru buatan sendiri yaitu Roti'O, tapi tidak membuang konsep produknya (dipertahankan sama dengan versi aslinya). Pembedanya adalah Roti'O menyasar lebih dekat dengan pasar, seperti di stasiun, terminal, pasar, dimana banyak calon pembeli di lokasi itu dengan frekuensi rata² konstan setiap harinya.
Seiring waktu gerai Roti'O makin banyak di Indonesia, hingga ratusan sedangkan Rotiboy di Indonesia hanya puluhan. Wajar saja, ada berapa banyak stasiun, terminal, pasar dan pusat keramaian yang konsisten di Indonesia, di situlah Roti'O membuka gerainya.
Jadi jawaban dari pertanyaan dijudul postingan ini, siapa yang lebih dulu? Jawabannya adalah Rotiboy, dia adalah pionir roti rasa kopi dengan isian mentega dengan aroma khas yang menggugah selera. Sedangkan Roti'O lahir belakangan sebagai sebuah brand.
Segitu saja bahasannya, setidaknya kita tahu siapa yang lebih dulu. Lalu kalian pilih yang mana? Saya pikir sama saja keduanya, selama tidak ada perubahan cita rasa, ketika ketemu roti seperti ini beli saja. -cpr
#onedayonepost
#ragambudaya
#rotiboy
#rotio

0 Komentar
Tinggalkanlah pesan, maka saya akan cari anda sambil saya berselancar di dunia ini ...