Kapal induk saya artikan sebagai kapal yang paling besarnya kapal. Iya namanya juga induk, pasti besar sih.
Bayangan mengenai seperti apa kapal induk ya seperti yang kita sering lihat di media apapun itu, alutsista dari USA, kapal berukuran besar yang di atasnya bisa digunakan lepas landas pesawat tempur atau helikopter. Ukurannya besar sekali dan ketika melintasi samudra luas biasanya didampingi kapal perang lain dengan formasi tertentu.
Indonesia 🇮🇩 saat ini tidak memiliki kapal induk, kalau jajaran kapal perang sih banyak, tapi kalau kapal induk gak punya.
Negara² di ASEAN yang memiliki kapal induk hanya Tailan, itu pun hanya satu unit saja dan saat ini pun dioperasikan sebagai 'kapal wisata', sudah tidak dioperasikan untuk misi militer tertentu, ya mungkin jika kondisi terdesak barulah dipergunakan.
Tailan rupanya tekor ketika harus mengoperasikan kapal induknya ini. Kapal induk Tailan ini didesign sebenarnya dikombinasikan dengan alutsista lain seperti pesawat Sea Harrier "Matador" V/STOL dan helikopter Seahawk, tapi ternyata unit² alutsista tersebut tidak berkelanjutan untuk dioperasikan karena masalah suku cadang yang mahal, sehingga dipensiunkan tahun 2006. Alhasil kapal induk yang harusnya mengoperasikan unit pesawat² itu jadi tidak berfungsi optimal. Ditambah lagi biaya operasional untuk mengoperasikan kapal induknya saja butuh 2 juta bath Tailan. Untuk tiga hari operasi butuh 1 juta bath.
Coba kita cari tahu kapal induk yang dioperasikan Tailan itu apa?
Jadi Tailan punya kapal induk yang diberi nama HTMS Chakri Naruebet, kapal induk ini dioperasikan oleh Royal Thai Navy. Bahasa Indonesianya mungkin tentara angkatan lautnya Tailan.
Pembeliannya digagas ketika Tailan dilanda bencana Topan Gay tahun 1989. Kala itu negara kesulitan mengatasi tanggal darurat guna menyelamatkan korban, karena tidak punya armada kapal yang mampu menghadapi ombak besar di wilayah teluknya.
Kapal induk milik Tailan ini dibangun mulai tahun 1992, dengan budget 285 juta dollar AS kala itu. Dengan design nya mengacu pada kapal induk angkatan laut Spanyol 🇪🇸, Principe de Asturias. Kapal induk Tailan ini dibangun di galangan kapal di Spanyol, Bazan.
Kapal induk Tailan resmi selesai dan diserahkan kepada Royal Navy Tailan pada tahun 1997. Kapal induk HTMS Chakri Naruebet punya dimensi panjang 182,6 meter, lebar 22,5 meter dan bobot sekitar 11.485 ton.
Daya tampungnya 62 perwira, 393 pelaut, 146 awak udara, 675 personel Marinir.
Dapur pacunya menggunakan dua engine yaitu diesel dan turbin gas. Untuk turbin gas nya GE LM2500 dan diesel engine nya dari Bazan-MTU 16V1163 TB83. Dengan jangkauan operasi 10.000 mil laut (19.000 km) dan kecepatan jelajah 12 knot.
Kapal induk Tailan satu² nya ini termasuk kapal induk yang ukurannya kecil jika dibandingkan kapal induk sekelasnya.
Nah, berkaca dari Angkatan Laut Tailan nih, Indonesia dengar² juga berkeinginan memiliki kapal induk juga. Tapi dari wacana yang muncul ke media, kapal induk yang akan dinego dimiliki untuk TNI AL bukan kapal induk baru yang dibangun seperti Tailan miliki. Melainkan kapal induk bekas dari angkatan laut Italia 🇮🇹.
Unit kapal induk yang diincar itu bernama ITS Giuseppe Garibaldi. Termasuk jenis kapal induk ringan (light aircraft carrier). Saat ini kapal induk tersebut kondisinya sudah tidak aktif dipergunakan sejak Oktober 2024.
Kapal Induk Giusepp Garibaldi, ketika masih aktif dipakai Italia 🇮🇹. Gambar diambil dari Google
Katanya anggaran untuk pengadaan kapal bekas ini senilai 450 juta dolar AS. Lebih mahal dibandingkan kapal baru yang dibeli Tailan ya? Iya lah, itu Tailan beli tahun berapa, inflasi yang gak diitung ta 🤣.
Tapi berdasarkan berita yang saya baca dari Tempo, 1 Maret 2026, dengan judul Alasan Kemhan Tak Beli Kapal Induk Baru. Kapal induk ini tidak dibeli, melainkan melalui mekanisme hibah.
Meski kapal dari Italia ini diperoleh tanpa pembelian, pemerintah tetap menyiapkan anggaran untuk pemeliharaan dan peningkatan kemampuan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut. (Tempo, 1 Maret 2026 di sini)
Dimensi kapal induk ini, panjang 180,2 meter, lebar 33,4 meter dan bobotnya sekitar 13.850 ton ketika full loaded.
Ukurannya unda-undi dengan kapal induk Tailan, sama² kapal induk yang kecil, meski kapal induk jabatannya tapi ternyata ukurannya tidak terlalu besar.
Untuk dapur pacunya Propulsi: 4 × turbin gas General Electric/Avio LM2500 (COGAG). Daya total: ±60.400 kW (~81.000 hp). Kecepatan maksimum: sekitar 30 knot (~56 km/jam). Jangkauan jelajahnya: ±7.000 mil laut pada 20 knot (~13.000 km).
Lebih pendek dibandingkan kapal induk Tailan, mungkin karena penggunaan dual engine, sedangkan pada IT'S Geribaldi ini hanya single engine.
Kapal induk ini dapat menampung awak: ±830 orang (±550 awak kapal, ±180 awak udara, ±100 staf komando).
Kapal ini bawaannya dipersenjatai tiga meriam kembar 40mm/70mm dari Oto Melara, dua peluncur torpedo tiga tabung ILAS 3, sistem rudal permukaan-ke-permukaan, serta sistem anti-torpedo SLAT.
Meski beruntung pengadaan unit kapal induk ini tanpa 'beli' alias dari hibah goverment to goverment, pemerintah RI akan tetap mengeluarkan dana untuk perawatan dan operasional kapal ini, serta melengkapi fasilitas pendukung yang dibutuhkan. Informasinya semua akan dilakukan di galangan internal Indonesia sendiri.
Ini hal baik, guna mendukung kemandirian kemampuan industri militer dalam negeri, terutama urusan perkapalan seperti ini. Setidaknya hal ini bisa menambah wawasan industri perkapalan dalam negeri untuk menelaah unit kapal induk, agar dikemudian hari bangsa Indonesia punya kapal induknya sendiri hasil produksi dalam negeri.
Nah dari sini terlihat nampak sih kemiripan dengan yang dialami Tailan. Saat ini Indonesia belum memiliki armada pesawat yang bisa dioperasikan dari atas kapal induk ini, paling ya hanya untuk pendaratan helikopter yang dimiliki angkatan laut dan matra lainnya. Tapi untuk armada khusus perang belum punya.
Akankah akan jadi kapal wisata pada akhirnya?
Karena biaya operasionalnya jelas besar, apalagi menggunakan gas, tapi Indonesia kan penghasil gas, siapa tahu ini akan meringankan biaya operasionalnya. Lalu jika mau mengoperasikan kapal induk ini berarti butuh pengadaan armada pendukung lainnya juga dan itu pasti butuh dana lagi.
Intinya sih Indonesia harus belajar dari Tailan, kalau gak ya bisa bernasib sama nantinya. Ini pun bukan murni kapal induk sesungguhnya, karena ukurannya tidak 'induk-induk' banget.
Kalau bahas perlu atau tidak, menurut saya sih ko ya belum perlu, masih banyak yang perlu dipikirkan daripada menyediakan kapal induk, setidaknya dalam waktu dekat ini. Belum ada kebutuhan mendesak ke arah sana. Daripada beli kapal induk, lebih baik beli kapal² kecil untuk menjaga perairan Indonesia dari selundupan barang² dari luar dan ekspor ilegal keluar negeri. Itu lebih mendesak, untuk mengurangi penggembosan bangsa oleh oknum² tak bertanggung jawab.
Tapi nampaknya rencana pengadaan ini sudah akan realisasi, jadi kita tunggu saja beritanya nanti dan akhir ceritanya. Btw, nama untuk kapal induk ini akan dinamai KRI Gajah Mada, katanya sih begitu. Kita tunggu saja updatenya ya. -cpr
#onedayonepost
#kapalinduk
#opini
#krigajahmada

_during_Dragon_Hammer_92.jpg)

0 Komentar
Tinggalkanlah pesan, maka saya akan cari anda sambil saya berselancar di dunia ini ...