Siapa yang pernah mengalami kendaraannya tertahan karena ada blokade akibat iring-iringan rombongan touring, entah touring warga sipil, militer, polisi atau pejabat pemerintahan? Pastinya kita semua pernah mengalami itu.
Kesal? Iya pastinya kesal dan merasa terganggu dengan penyetopan itu, karena jelas menghambat laju perjalanan kita. Umumnya, ketika blokade selesai dilakukan, banyak yang berlomba untuk mengikuti iring-iringan rombongan itu, berharap dapat melaju lebih lancar.
Tapi, biasanya juga jika iring-iringannya militer, kepolisian atau pejabat pemerintahan seringnya kita diblok, sehingga sulit masuk rombongan karena ada petugas yang sedikit arogan, jadi kita umumnya takut cari masalah dengan mereka, pastinya dibenturkan dengan aturan perundangan yang berlaku.
Yang memungkinkan untuk mengikuti iring-iringan itu adalah iring-iringan warga sipil. Itu lebih mudah diikuti atau disusupi, apalagi kalau rombongannya mirip² atau satu merk, pastinya nyaru.
Tapi tahukan bahayanya? Itu kenapa sering ada larangan untuk mengikuti iring-iringan seperti itu? Inilah yang perlu kita ketahui, supaya lebih berhati-hati. Soalnya banyak yang gak paham mengenai hal ini, sehingga masih menganggap wajar untuk mengikuti rombongan dengan alasan supaya dapat manfaat kelancaran.
Jadi begini, biasanya rombongan iring-iringan atau touringan baik motor maupun mobil, drivernya atau pengendaranya dibekali alat komunikasi, antar kendaraan satu dan yang lainnya. Sebelum berangkat pun mereka diinformasikan soal berapa kendaraan yang ikut dalam rombongan, di depan siapa dan di belakang siapa.
Ketika iring-iringan kecepatan kendaraan diseting konstan satu sama lain, dan komunikasi mereka diatur melalui jaringan khusus diantara rombongan itu saja. Entah dalam bentuk komunikasi radio atau isyarat² tertentu.
Bayangkan saja, kita ikut atau nyempil di dalam 10 kendaraan beriringan, kita masuk di antara kendaraan ke-5 dan 6, berarti rombongan itu menjadi 11, lalu ada lagi kendaraan lain masuk satu lagi di antara kendaraan ke-8 dan 9, berarti ada 12 kendaraan dalam rombongan. Tiba² di bagian depan infokan ada hambatan, dengan kecepatan konstan tinggi, tiba² harus berhenti mendadak seirama, 10 kendaraan rombongan resmi jelas punya jalur komunikasi instan yang bisa dipahami semua kendaraan, sedangkan 2 kendaraan penyusup tidak tahu apa², tiba² harus manuver, lalu dari mana si kendaraan penyusup ini tahu manuver apa yang harus dilakukan dalam tempo singkat itu? Salah², justru 2 kendaraan penyusup itu akan merusak ritme dari kendaraan lainnya, sehingga bisa saja menimbulkan potensi laka lantas, tabrakan beruntun misalnya.
Itulah dia bahayanya kenapa kita dilarang ikut iring-iringan rombongan atau bahkan menyusup di dalam barisan tersebut, resikonya ya seperti yang saya sebutkan di atas paragraf ini.
Jadi berhati-hatilah ketika mau ikut rombongan iring-iringan, karena bahaya mengintai di sana, karena semahir-mahir berkendara, ketika dalam posisi yang kurang informasi apalagi dalam kecepatan tinggi, akan sangat beresiko, bagi kita sendiri dan orang lain.
Okay, mulai sekarang katakan tidak untuk melakukan cara itu, dengan alasan ingin lebih lancar. Keselamatan kita dan orang lain lebih penting daripada cepat sampai. SSDK
0 Komentar
Tinggalkanlah pesan, maka saya akan cari anda sambil saya berselancar di dunia ini ...